Layar-layar dengan bordir tatreez itu tetap berkibar di tengah gelombang yang sama yang pernah menenggelamkan upaya-upaya sebelumnya. Tidak ada yang tahu apakah kali ini akan berbeda. Tapi tidak ada yang berhenti mengisi bahan bakar.
Keberangkatan Armada dari Perancis (April 2026)
Sebuah armada yang terdiri dari sekitar 20 kapal dari Perancis telah berlayar dari kota pelabuhan selatan, Marseille, pada Sabtu, 4 April 2026. Kapal-kapal yang didominasi perahu layar ini memulai perjalanan dari Pelabuhan L'Estaque setelah persiapan selama berminggu-minggu.
Keberangkatan mereka dilepas oleh sekitar 1.000 pendukung yang berkumpul di dermaga, meneriakkan slogan "Gaza, Marseille bersamamu!" dan melambai-lambaikan bendera Palestina. Kapal-kapal tersebut juga dihiasi dengan simbol-simbol solidaritas Palestina, seperti bordir tradisional tatreez dan gambar Handala, anak kecil ikonik yang melambangkan perlawanan dan kerinduan akan tanah air.
Misi "Global Sumud Flotilla" 2026
Armada Perancis ini adalah bagian dari misi "2026 Spring Mission" (Misi Semi 2026) dari Global Sumud Flotilla (GSF). Misi ini bertujuan untuk memecahkan blokade laut Israel yang telah berlangsung selama 19 tahun dan mengirimkan bantuan darurat langsung ke Gaza.
Kapal-kapal dari Perancis saat ini sedang menuju ke Italia untuk bergabung dengan kapal-kapal lain dari berbagai negara yang akan membentuk armada internasional yang lebih besar. Rencananya, armada utama yang terdiri dari sekitar 100 kapal ini akan berlayar dari Barcelona pada 12 April dan diperkirakan akan menuju ke Gaza sekitar 20 April 2026. Sebelum melanjutkan perjalanan, akan ada perhentian selama satu minggu di Italia selatan untuk "pelatihan non-kekerasan".
Konteks Sebelumnya: Misi yang Terhalang
Misi ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, upaya serupa telah menghadapi intersepsi oleh angkatan laut Israel.
Misi Akhir 2025: Pada akhir 2025, armada awal yang terdiri dari sekitar 50 kapal, yang membawa tokoh politik dan aktivis seperti Greta Thunberg, dicegat dan awaknya ditahan oleh angkatan laut Israel. Organisator dan Amnesty International menyebut tindakan itu ilegal.
Insiden Oktober 2025: Pada bulan Oktober 2025, angkatan laut Israel menyerang dan menyita lebih dari 40 kapal dari armada bantuan kemanusiaan GSF, menahan lebih dari 450 aktivis yang berada di dalamnya.
Insiden Kapal Madleen (Juni 2025): Kapal "Madleen" yang membawa 12 relawan internasional, termasuk aktivis iklim Greta Thunberg dan anggota Parlemen Eropa asal Perancis-Palestina, Rima Hassan, juga dicegat oleh otoritas Israel. Presiden Perancis Emmanuel Macron saat itu mengecam keras blokade Israel dan menyebutnya sebagai sebuah "skandal".
Insiden Kapal Conscience (Mei 2025): Bahkan lebih awal lagi, pada Mei 2025, kapal "Conscience" diserang oleh pesawat nirawak (drone) di perairan internasional dekat Malta, yang dilaporkan terkait dengan aktivitas militer Israel.
Solidaritas di Laut dan Dampak Kemanusiaan
Para penggagas misi ini menyoroti betapa parahnya situasi di Gaza. Nozha Trabelsi, dari gerakan "Thousand Madleens to Gaza", memperingatkan bahwa situasi di Gaza terus memburuk setiap hari dan efeknya melampaui batas-batas wilayah. Dia juga menganggap anggapan tentang gencatan senjata yang aktif adalah menyesatkan, mengingat sejarah intersepsi armada bantuan.
Esther Le Cordier, anggota gerakan yang sama, menjelaskan bahwa setiap kapal dalam misi ini mewakili tema yang berbeda, seperti tahanan, anak-anak, dan personel medis, yang semuanya menurutnya menjadi sasaran sistematis di Gaza. Sementara itu, pemerintah Perancis sendiri telah memperingatkan warganya bahwa misi semacam itu berbahaya dan sangat tidak disarankan, meskipun mereka akan memberikan bantuan konsuler jika diperlukan.
Israel telah mempertahankan blokade di Gaza, yang merupakan rumah bagi hampir 2,4 juta warga Palestina, selama hampir 18 tahun. Blokade ini diperketat pada Maret lalu ketika semua penyeberangan perbatasan ditutup, menghalangi pengiriman makanan, air, dan obat-obatan, serta mendorong wilayah kantong tersebut ke dalam kondisi kelaparan akut.•••
