Gaza — Badai musim dingin hebat yang melanda Jalur Gaza sepanjang bulan lalu telah berdampak pada sekitar 65.000 rumah tangga, menurut laporan terbaru Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) yang dirilis pada Selasa (6/01/2026).
OCHA menyebutkan bahwa badai menyebabkan tenda-tenda pengungsian rusak atau tersapu angin, sejumlah rumah runtuh akibat cuaca ekstrem, serta barang-barang pribadi warga terendam air. Di beberapa wilayah, seluruh lokasi pengungsian terendam banjir akibat sistem drainase yang tidak memadai dan kondisi geografis yang berada di dataran rendah.
Selain merusak tempat tinggal, badai juga menghancurkan ruang belajar sementara dan akses jalan utama yang digunakan untuk distribusi bantuan kemanusiaan. Kondisi ini semakin memperburuk situasi di Gaza, yang hingga kini masih sangat bergantung pada bantuan internasional.
Sepanjang Desember, para pekerja kemanusiaan telah menyalurkan bantuan kepada sekitar 80.000 keluarga, termasuk lebih dari 40.000 tenda, 135.000 lembar terpal, serta berbagai perlengkapan penting lainnya seperti kasur dan selimut. Namun demikian, mitra PBB di sektor hunian menegaskan bahwa tenda tidak dapat menjadi solusi jangka panjang.
“Tenda hanya memberikan perlindungan sementara dan tidak layak dijadikan sebagai hunian utama di Gaza,” ujar para mitra kemanusiaan. Mereka menekankan perlunya percepatan pembangunan hunian yang lebih permanen, termasuk perbaikan rumah-rumah yang mengalami kerusakan sebagian.
Upaya tersebut menghadapi tantangan serius akibat keterbatasan lahan. OCHA memperingatkan bahwa minimnya ketersediaan lahan menghambat relokasi warga dan memperlambat penerapan solusi hunian yang layak. Akibatnya, sekitar satu juta warga Gaza hingga kini masih membutuhkan bantuan hunian darurat.
Badai hujan terbaru juga dilaporkan telah mengikis sejumlah kemajuan yang sempat dicapai selama masa gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober lalu.
Di sisi lain, mitra kemanusiaan di bidang telekomunikasi darurat melaporkan kemajuan terbatas. Pekan lalu, peralatan baru untuk meningkatkan jangkauan radio akhirnya berhasil masuk ke Gaza setelah tertahan di Yerusalem sejak Agustus 2024 menunggu persetujuan otoritas Israel.
Meski demikian, OCHA menegaskan bahwa sejumlah peralatan penting lainnya, termasuk sistem pasokan listrik, masih belum diizinkan masuk ke Jalur Gaza. Kondisi ini dinilai membahayakan kelangsungan dan keamanan operasi kemanusiaan di wilayah tersebut.
