Serangan tanpa henti Israel telah menewaskan sedikitnya 31 warga Palestina, termasuk enam anak-anak dan beberapa petugas kepolisian, di Gaza, sehari sebelum perlintasan perbatasan Rafah dijadwalkan dibuka kembali.
Serangan udara Israel pada Sabtu yang menghantam sebuah tenda tempat berlindung warga yang mengungsi menewaskan sedikitnya tujuh warga Palestina, termasuk tiga anak-anak, di wilayah al-Mawasi di barat laut Khan Younis. Jenazah para korban dibawa ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis.
Di Kota Gaza, layanan darurat melaporkan bahwa serangan udara Israel menewaskan sedikitnya lima warga Palestina, termasuk tiga anak-anak, di sebuah gedung apartemen di lingkungan Remal, di bagian barat kota.
“Kami bisa merasakan gelombang kejut dari ledakan, disusul awan debu hitam besar yang memenuhi area tersebut, meninggalkan sedikitnya lima orang tewas di dalam apartemen hunian itu, termasuk seorang ibu dan anak-anak,” dilansir dari salah satu jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, dari Kota Gaza.
Delapan warga Palestina lainnya juga terluka akibat pemboman Israel terhadap sebuah gedung apartemen di lingkungan Daraj, Kota Gaza.
“Semua ini terjadi di dalam garis kuning,” kata Mahmoud, merujuk pada garis demarkasi tempat tentara Israel mundur berdasarkan fase pertama gencatan senjata Gaza yang mulai berlaku pada Oktober. Ia menambahkan bahwa di Khan Younis, sebuah bangunan telah dihantam jet tempur dan hancur total setelah sebelumnya diberi peringatan oleh militer Israel.
Kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, mengecam serangan Israel terbaru tersebut dan menggambarkan gencatan senjata itu sebagai "gencatan senjata yang hanya formalitas."
“Gencatan senjata berarti senjata harus terdiam dan digantikan dengan upaya untuk mengakhiri perang,” tulis Philippe Lazzarini di X. “Masyarakat Gaza berhak atas gencatan senjata yang nyata — gencatan senjata yang sudah lama tertunda.”
Mesir dan Qatar, dua mediator utama gencatan senjata, juga mengecam pelanggaran Israel terbaru.
Mesir menuntut agar semua pihak “menunjukkan pengekangan diri semaksimal mungkin” menjelang rencana pembukaan kembali perlintasan Rafah pada Minggu, yang menghubungkan Gaza dan Mesir.
Qatar menyatakan bahwa kekerasan tersebut merupakan “eskalasi berbahaya yang akan memperkeruh situasi dan merusak upaya regional dan internasional untuk memperkuat gencatan senjata.”
Militer Israel mengatakan serangan terbarunya merupakan pembalasan atas insiden pada Jumat, ketika delapan pejuang Palestina keluar dari sebuah terowongan di Rafah, yang menurut Israel melanggar gencatan senjata.
Militer Israel menyatakan pasukannya “menyerang empat komandan serta teroris tambahan dari organisasi teroris Hamas dan Jihad Islam di seluruh Jalur Gaza.”
Anggota biro politik Hamas, Suhail al-Hindi, menolak klaim militer Israel tersebut.
“Apa yang terjadi hari ini adalah kejahatan sepenuhnya yang dilakukan oleh musuh kriminal yang tidak mematuhi perjanjian atau menghormati komitmen apa pun,” ujarnya kepada kantor berita AFP.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa sedikitnya 524 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku.
