Mereka menunggu hampir tiga tahun. Sebanyak 60 anak-anak, yang jasadnya kini hanya tinggal tulang-belulang, akhirnya diantar ke peristirahatan terakhir. Namun ribuan lainnya masih menanti di bawah puing.
Prosesi pemakaman massal digelar di lingkungan Zeitoun, Gaza, pada Minggu (6/9). Sekitar 100 jenazah dan sisa-sisa tubuh warga Palestina yang berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan Israel akhirnya dimakamkan .
Ribuan warga, keluarga korban, dan tokoh masyarakat hadir dalam iring-iringan tersebut. Keranda-keranda yang dibalut bendera Palestina diarak dari lokasi penemuan menuju Pemakaman al-Ma'madani di pusat Kota Gaza. Di antara 100 jenazah itu, 60 di antaranya adalah anak-anak .
Korban berasal dari keluarga Rahim, Balawi, Malaka, dan Qanbour. Keluarga Malaka sendiri kehilangan 55 anggotanya dalam satu rangkaian serangan dua setengah tahun lalu . "Ini adalah sisa-sisa tulang belulang dan barang-barang yang ditemukan di dekat jasad. Tidak ada jasad utuh," ujar koresponden Al Jazeera, Ghazi al-Aloul, melaporkan kondisi mengenaskan para korban.
Maryam Hassan al-Balawi, salah satu keluarga yang hadir, mengungkapkan bahwa mereka telah menunggu bertahun-tahun untuk dapat memberikan pemakaman yang layak kepada orang-orang tercinta. Operasi evakuasi yang dilakukan tim Pertahanan Sipil Gaza berlangsung dalam kondisi serba terbatas—hanya mengandalkan sejumlah kecil alat berat dan peralatan yang kondisinya sudah memprihatinkan .
Kepala Pertahanan Sipil Gaza, Raed al-Dahshan, menyatakan bahwa sekitar 8.000 jenazah lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan di berbagai wilayah Gaza . "Jika peralatan yang kami ajukan diizinkan masuk, evakuasi 8.000 jasad bisa rampung dalam 90 hari. Jika terus diblokir, pekerjaan ini akan memakan waktu bertahun-tahun," tegasnya .
Sementara 100 keluarga telah mendapatkan kepastian, masih ada ribuan nama lain yang tertahan di bawah puing-puing beton. Akankah dunia masih ingat pada mereka ketika waktu terus bergulir?•
