Info Terkini

Perjalanan Gencatan Senjata Gaza: Antara Kesepakatan, Kebuntuan, dan Harapan

Perjalanan Gencatan Senjata Gaza: Antara Kesepakatan, Kebuntuan, dan Harapan

Drone kembali menebar maut di pelabuhan Kota Gaza, Selasa pekan lalu. Enam orang meregang nyawa. Seorang di antaranya anak-anak. Dua belas lainnya luka-luka. Serangan ini bukan lagi kejutan—hanya satu dari deretan pelanggaran yang terus menggerogoti gencatan senjata yang mulai berlaku Oktober lalu.

Bayangkan: sejak gencatan senjata dideklarasikan, 1.265 warga Palestina sudah jadi korban meninggal dunia. Empat ribu lebih luka-luka. Angka itu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, adalah korban dari serangan Israel selama masa yang seharusnya menjadi jeda kemanusiaan. Sementara itu, Hamas mencatat lebih dari 2.400 pelanggaran dalam enam bulan pertama saja. Menteri Luar Negeri Kuba bahkan menyebut angkanya menembus 3.000.

Lantas di mana kesepakatan?

Kesepakatan di Atas Kertas, Kebuntuan di Lapangan
Pada akhir Juli lalu, ada secercah harapan. Hamas menyetujui peta jalan 15 poin yang difasilitasi Board of Peace—komite bentukan AS. Isinya: Hamas menyerahkan senjata berat untuk disimpan, Israel mundur bertahap. Al Jazeera bahkan mendapat salinan dokumennya. Trump langsung berseru di Truth Social: "kesepakatan bersejarah."

Tapi di lapangan, cerita lain.

Hamas memasang syarat: "Kami baru meletakkan senjata jika Israel tarik pasukan dan rekonstruksi berjalan." Presiden Israel membalas dingin: "Tidak ada penarikan sebelum Hamas dilucuti total." Dua kalimat yang saling bertolak belakang. Dan di antara keduanya, diplomat bolak-balik tanpa hasil.

Kushner dan Diplomasi yang Tak Kunjung Usai
Jared Kushner, utusan Trump, mencoba memecah kebuntuan. Pertengahan Agustus lalu, ia terbang ke El-Alamein, Mesir, menemui Khalil al-Hayya, pemimpin baru Hamas. Ini pertemuan langsung langka antara pejabat AS dan Hamas. Kushner meminta langkah pelucutan senjata yang bisa diverifikasi. Hamas mengulang komitmennya—tapi tetap dengan syarat yang sama.

Esoknya, Kushner menemui Presiden Israel di Yerusalem. Empat jam mereka duduk bersama. Hasilnya? Dua kelompok kerja dibentuk: satu untuk pelucutan senjata, satu untuk bantuan kemanusiaan. Kushner optimistis, menyebut kemajuan bisa terlihat dalam 30 hari.

Tapi optimisme itu tak mengubah fakta: Netanyahu masih bersikukuh, Hamas masih bersyarat. Kushner pulang tanpa terobosan.

Siapa yang Menghambat?
Delapan negara—Indonesia, Turki, Mesir, Arab Saudi, dan lainnya—mengeluarkan pernyataan bersama menuding Israel sebagai penghambat perdamaian. Faksi-faksi Palestina di Kairo juga sepakat: Israel mengingkari komitmen fase pertama.

Trump akhirnya angkat suara, menyerukan Israel menghentikan serangan di Gaza. Hamas menyambut, lalu memanfaatkannya untuk menekan lebih keras.

Tapi Netanyahu punya hitungan politik sendiri. Pemilu Israel tinggal dua bulan lagi. Memberi konsesi besar di saat seperti ini sama saja bunuh diri politik. Sementara itu, Israel masih menguasai 60 persen Gaza. Di pihak lain, Hamas tak mau terlihat lemah di mata rakyatnya yang terus kehilangan nyawa dan rumah.

Jalan Panjang Tanpa Ujung?
Sampai hari ini, kesepakatan yang diumumkan Trump pada 30 Juli itu bukanlah kesepakatan final. Ia masih berupa proposal. Yang ada adalah dua kubu yang sama-sama keras, saling menunggu siapa yang lebih dulu berkedip.

Sementara diplomat bicara, drone terus menyerang. Warga Gaza terus mati. Gencatan senjata yang seharusnya menjadi pintu menuju damai, kini hanya menjadi pengingat bahwa perdamaian di Timur Tengah—sekali lagi—masih jauh panggang dari api.•


SADAQA MULIA MUBARAKA
GRIYA SADAQA • Jl. Ciputat Raya No.6, RT.6/RW.6,
Pd. Pinang, Kec. Kby. Lama, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12310, Indonesia

ORGANIZATIONS

PROGRAMS

Indonesia Bersedekah
Suara Kemanusiaan
Daurah Maqdisiyyah
Sadaqa Talk Forum
Forum Qur'an Sadaqa

VISITORS

0000000001265371
Today: 17
This Week: 203
This Month: 433
Total: 1,265,371