Satu personel TNI yang bertugas dalam pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur, setelah posisinya di Lebanon Selatan terkena serangan artileri tidak langsung Israel pada Minggu, 29 Maret 2026.
Tiga personel lainnya mengalami luka-luka dalam insiden yang terjadi di tengah eskalasi konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Kronologi Insiden
Peristiwa tragis ini terjadi di dekat Desa Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, ketika sebuah proyektil menghantam posisi pasukan penjaga perdamaian Indonesia. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengkonfirmasi bahwa serangan tersebut merupakan tembakan artileri tidak langsung yang mengenai posisi kontingen Garuda.
Menurut informasi yang dihimpun, satu personel gugur dalam insiden tersebut, sementara tiga lainnya mengalami luka-luka. Dari tiga korban luka, satu personel dilaporkan dalam kondisi kritis, sedangkan dua lainnya mengalami luka ringan dan telah mendapatkan perawatan medis.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dalam pernyataan resmi yang disampaikan oleh juru bicaranya Stéphane Dujarric, mengkonfirmasi bahwa insiden tersebut terjadi di posisi UNIFIL di Ett-Taibe, Lebanon selatan. Satu personel penjaga perdamaian tewas di dalam posisinya, sementara satu lainnya mengalami luka serius dalam peristiwa yang sama.
Respons Indonesia: Duka Mendalam dan Tuntutan Investigasi
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya personel penjaga perdamaian tersebut. Dalam pernyataan resmi yang diunggah di akun X, pemerintah menyatakan penghormatan setinggi-tingginya kepada almarhum atas dedikasi dan pengabdiannya bagi perdamaian dan keamanan internasional.
"Kami berduka atas kehilangan ini dan memberikan penghormatan tertinggi kepada yang gugur," demikian pernyataan pemerintah. Doa dan simpati juga disampaikan kepada keluarga yang ditinggalkan serta kepada personel yang terluka.
Pemerintah Indonesia secara tegas mengecam insiden ini dan menyerukan dilakukannya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan untuk mengungkap fakta di balik serangan tersebut. Indonesia juga menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan personel pemelihara perdamaian PBB harus senantiasa dihormati sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional .
"Setiap tindakan yang membahayakan peacekeeper tidak dapat diterima dan mengganggu upaya bersama dalam menjaga perdamaian dan stabilitas," tegas Kementerian Luar Negeri RI.
Koordinasi Pemulangan Jenazah dan Perawatan Korban
Pemerintah Indonesia memastikan bahwa pihaknya bekerja sama dengan UNIFIL untuk memastikan repatriasi jenazah dilakukan segera serta memberikan perawatan medis terbaik bagi personel yang terluka. Proses pemulangan jenazah dan evakuasi korban luka telah dikoordinasikan dengan otoritas terkait di Lebanon dan PBB.
Indonesia saat ini merupakan salah satu negara dengan kontribusi personel terbesar dalam misi UNIFIL, dengan mengerahkan sekitar 1.090 personel di Lebanon.
Sumber Serangan: Dua Versi yang Berbeda
Terdapat perbedaan informasi mengenai asal usul proyektil yang menyebabkan insiden ini. UNIFIL dalam pernyataannya menyatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui asal proyektil tersebut dan telah meluncurkan investigasi untuk menentukan seluruh keadaan di balik insiden ini.
Sementara itu, Lebanon's National News Agency (NNA) melaporkan bahwa tembakan artileri Israel menargetkan markas kontingen Indonesia di Adchit Al Qusayr. Pemerintah Indonesia sendiri, dalam pernyataan resminya, tidak secara eksplisit menyebutkan pihak pelaku, namun secara tegas mengecam "serangan Israel di Lebanon Selatan" secara umum.
Eskalasi Konflik di Lebanon Selatan
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel. Konflik melebar ke Lebanon setelah kelompok Hezbollah yang didukung Iran meluncurkan roket ke Israel pada awal Maret 2026, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Sejak saat itu, serangan Israel di Lebanon selatan telah menewaskan lebih dari 1.000 warga sipil Lebanon dan melukai ribuan lainnya. Ini bukan kali pertama posisi UNIFIL terkena imbas konflik. Sebelumnya, pada 7 Maret 2026, tiga personel penjaga perdamaian asal Ghana juga terluka akibat tembakan di kota perbatasan Lebanon selatan .
Peringatan Keras dari PBB
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dengan tegas mengutuk insiden ini dan mengingatkan bahwa serangan terhadap personel penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006), serta dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang .
"Serangan terhadap penjaga perdamaian adalah pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan 1701 (2006), dan dapat merupakan kejahatan perang. Akan ada pertanggungjawaban," demikian pernyataan Sekretaris Jenderal PBB.
UNIFIL sendiri dalam pernyataannya menyampaikan, "Tidak boleh ada seorang pun yang kehilangan nyawa dalam mengabdi pada perdamaian." Misi tersebut juga menegaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk konflik yang terjadi dan memperbarui seruannya agar semua pihak menahan diri .
Seruan Indonesia untuk Perdamaian
Selain mengecam serangan terhadap personel penjaga perdamaian, Indonesia juga menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon, menghentikan serangan yang membahayakan warga sipil dan infrastruktur, serta kembali ke jalur dialog dan diplomasi .
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa eskalasi lebih lanjut harus dicegah dan perdamaian harus diwujudkan melalui cara-cara damai. Indonesia tetap berkoordinasi erat dengan PBB dan otoritas terkait serta akan terus memantau perkembangan situasi secara saksama.
Latar Belakang: Misi UNIFIL dan Kontribusi Indonesia
United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) adalah misi penjaga perdamaian PBB yang dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 425 dan 426 tahun 1978, dengan mandat yang diperbarui melalui Resolusi 1701 tahun 2006 setelah perang Israel-Hezbollah. Misi ini bertugas mengawasi gencatan senjata, mendukung Tentara Lebanon, serta memastikan akses kemanusiaan ke wilayah selatan Lebanon.
Indonesia telah menjadi kontributor penting dalam misi UNIFIL selama bertahun-tahun, dengan personel yang ditempatkan di berbagai pos di sepanjang garis demarkasi yang dikenal sebagai Blue Line. Kontingen Garuda dikenal memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas di wilayah perbatasan yang kerap menjadi titik rawan konflik.•••
