Di tanah yang disebut sebagai Baitul Maqdis, hari ini berdiri 135.000 tenda. Sebagian besar—93 persennya, sekitar 125.000 unit— adalah tenda-tenda usang yang nyaris rubuh.
Angka ini bukanlah hiperbola jurnalistik, melainkan data yang dirilis Kantor Media Pemerintah Gaza pada November 2025.
Dari populasi Gaza yang berjumlah 2,1 juta jiwa, sekitar 1,4 juta orang kini hidup di sekitar 1.000 lokasi pengungsian. Mereka adalah "the vast majority"—mayoritas absolut—yang kehilangan rumah, kehilangan kampung, dan kehilangan orientasi ruang hidup. Lebih dari 371.888 unit rumah telah rusak atau hancur total.
Angka-angka yang Berbicara
Musim dingin 2025-2026 menjadi saksi bisu. Badai dan angin kencang merusak lebih dari 53.000 tenda. UNRWA melaporkan bahwa 3.500 tempat penampungan rusak hanya dalam sepekan, mempengaruhi lebih dari 19.000 jiwa. Di tengah udara beku, 127.000 tenda dinyatakan tidak layak huni. Hingga 21 jiwa dilaporkan meninggal akibat cuaca ekstrem—bukan karena bom, melainkan karena kedinginan di bawah kanvas yang robek.
Dari Engineered Starvation ke Siege Economy
Hari ini, Gaza menghadapi blokade total. Semua penyeberangan —termasuk Rafah— ditutup. Pergerakan kemanusiaan dihentikan. Israel bahkan dituduh menerapkan "engineered starvation" melalui penutupan penyeberangan.
Bantuan yang masuk tak sebanding dengan kebutuhan. PBB memperkirakan kebutuhan tenda mencapai 200.000 hingga 300.000 unit agar warga Gaza bisa hidup layak. Namun yang tersedia hanyalah "solusi awal"—tenda-tenda darurat yang tak mampu menahan dinginnya musim dingin maupun teriknya musim panas.

Rasa dan Empati Kemanusiaan Kita Diuji
Di kamp-kamp pengungsian Deir Al-Balah dan Khan Yunis, para ibu dan anak-anak berjuang mendapatkan air bersih. Pompa air hanya beroperasi satu jam per hari untuk ribuan pengungsi. Layanan kesehatan darurat didirikan oleh lembaga-lembaga kemanusiaan, namun itu hanyalah setitik air di tengah lautan kebutuhan.
Laporan Gaza Rapid Damage and Needs Assessment terbaru menyebutkan bahwa pembangunan manusia di Gaza mundur 77 tahun. Perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan menanggung beban terberat.
Tenda sebagai Saksi Sejarah Persaudaraan
Kisah Gaza hari ini ditulis dari balik kanvas tenda oleh mereka yang bertahan. "Tenda untuk Gaza" bukan sekadar kampanye kemanusiaan. Ia adalah pengakuan atas hak paling dasar: hak untuk berteduh, hak untuk tidak kedinginan di tanah sendiri, dan hak untuk hidup bermartabat di bawah langit yang sama.
Dan sejarah kelak akan mencatat: ketika dunia membiarkan 125.000 tenda usang menjadi "rumah" bagi 1,4 juta manusia, di situlah batas antara peradaban dan barbarisme menjadi sangat tipis. Dari kegelapan yang mencekik, semoga terang segera datang, meskipun dimulai dari satu titik; kepedulian kita untuk tetap bersama Palestina.•••
