Masjid Al-Aqsha sejak awal telah menjadi sumber kesucian dan pusat keberkahan yang menyebar ke sekitarnya, ketika ia menjadi masjid kedua di bumi yang dijadikan tempat ibadah kepada Allah. Sejak awal sejarahnya, Al-Aqsha memiliki hubungan erat dengan Masjidil Haram, menyaksikan perjalanan para nabi yang shalat dan beribadah di dalamnya, dan dari mihrabnya mereka menyampaikan risalah Allah.
Dalam tulisan ini, kita akan membahas periode awal sejarah Masjid Al-Aqsha, sejak pendiriannya hingga masa Nabi Isa عليه السلام, dengan memanfaatkan sumber-sumber Islam, menelusuri isyarat-isyarat yang disebutkan di dalamnya, serta pendapat para ulama besar yang mencatatkan riwayat-riwayat tersebut dalam karya-karya mereka.
Pendirian Pertama
Dalam sunnah Nabi, telah ditegaskan bahwa pendirian Masjid Al-Aqsha terjadi 40 tahun setelah Masjidil Haram, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar رضي الله عنه, ia berkata:
"Aku bertanya: Wahai Rasulullah, masjid apa yang pertama kali dibangun di bumi? Beliau menjawab: Masjidil Haram. Aku bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: Masjid Al-Aqsha. Aku bertanya: Berapa lama jarak waktu antara keduanya? Beliau menjawab: Empat puluh tahun. Lalu beliau bersabda: Di mana saja engkau berada saat waktu shalat tiba, maka shalatlah; karena bumi ini adalah masjid bagimu."
Hadits ini menjadi landasan utama dalam memahami dan menelusuri sejarah Masjid Al-Aqsha. Ia menunjukkan bahwa pembangunan Al-Aqsha terjadi sangat awal, hanya selang waktu singkat setelah pembangunan Masjidil Haram. Empat puluh tahun adalah waktu yang singkat jika dibandingkan dengan usia manusia pertama atau umur kehidupan di bumi.
Salah satu pembahasan penting terkait sejarah pendirian Masjid Al-Aqsha adalah tentang siapa yang pertama kali membangunnya. Isu ini telah menarik perhatian para ulama, baik dahulu maupun sekarang. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ada beberapa pendapat: “Yang pertama kali membangun Masjid Al-Aqsha adalah Nabi Adam عليه السلام, ada yang mengatakan malaikat, ada yang mengatakan Sam bin Nuh عليه السلام, dan ada pula yang mengatakan Nabi Ya’qub عليه السلام.” Namun, ia cenderung mengikuti pendapat Ibnu Al-Jauzi, Ibnu Hisyam, dan lainnya yang merajihkan bahwa Nabi Adam عليه السلام yang membangun Masjid Al-Aqsha setelah membangun Masjidil Haram. Ibnu Hajar berkata:
"Pendapat yang disebutkan oleh Ibnu Al-Jauzi lebih kuat, dan aku menemukan dalil yang menguatkannya, yakni pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Adam-lah yang membangun kedua masjid tersebut."
Ibnu Hisyam menambahkan rincian yang mendukung pandangan ini, bahwa setelah Adam membangun Ka’bah, Allah memerintahkannya untuk berjalan menuju tanah suci, lalu Jibril menunjukkan kepadanya bagaimana membangun Baitul Maqdis, dan ia pun membangunnya. Perlu dicatat bahwa yang dimaksud Baitul Maqdis di sini adalah Masjid Al-Aqsha. Nama ini pertama kali disebut dalam Surah Al-Isra’, kemudian kaum Muslimin terbiasa menggunakan nama "Baitul Maqdis" untuk merujuk kepada kota tersebut pada masa-masa selanjutnya, sementara "Al-Aqsha" menjadi nama khusus untuk masjid itu. Masjid Al-Aqsha menjadi inti dari kota Baitul Maqdis, sebagaimana Ka’bah menjadi inti dari wilayahnya.
Adapun persoalan yang mungkin membingungkan sebagian orang adalah: jika Masjid Al-Aqsha dibangun 40 tahun setelah Masjidil Haram, berarti ia dibangun pada atau setelah masa Nabi Ibrahim عليه السلام, sebab beliau yang membangun Ka’bah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail" (QS. Al-Baqarah: 127). Jawabannya adalah bahwa pembangunan oleh Nabi Ibrahim itu merupakan pembangunan ulang setelah bangunan awalnya runtuh. Hal ini disebutkan oleh banyak ulama seperti Ath-Thabari, Ar-Razi, Al-Qurthubi, As-Suyuthi, Al-Baghawi, dan lainnya. Ath-Thabari berkata: "Fondasi itu adalah fondasi Baitullah sebelum itu. Ada yang mengatakan: ia adalah fondasi rumah yang Allah turunkan untuk Adam dari langit ke bumi."
Dari penjelasan dan pendapat para ulama ini, dapat disimpulkan bahwa pendirian pertama Masjid Al-Aqsha adalah oleh Nabi Adam عليه السلام.
Bentuk dan Arah Pembangunan Pertama
Bagian terakhir dari riwayat Ibnu Hisyam yang menyebutkan "lalu Jibril menunjukkan kepadanya bagaimana membangun Baitul Maqdis" memberikan tambahan informasi yang sangat penting: Nabi Adam membangun Masjid Al-Aqsha berdasarkan arahan langsung dari Allah melalui malaikat Jibril.
Penelitian menarik yang dilakukan oleh Haitsami Ar-Rutrut dari sudut pandang teknik arsitektur dan sejarah membandingkan Ka’bah (yang dibangun Nabi Ibrahim di atas fondasi Nabi Adam) dengan Masjid Al-Aqsha pada masa para nabi, sebelum perluasan Umayyah (abad 1 H / 7 M) yang memperluas ke arah utara. Penelitian ini, berdasarkan catatan Al-Azraqi (w. 225 H) tentang ukuran Ka’bah dan temuan arkeologis modern tentang bentuk awal Masjid Al-Aqsha, menemukan bahwa:
"Ketika dibandingkan, denah arsitektur Masjid Al-Aqsha pada masa pendiriannya memiliki kemiripan mutlak dengan Ka’bah, baik dari segi perbandingan panjang sisinya, tingkat kemiringannya, maupun sudut-sudutnya. Singkatnya, kedua masjid ini dibangun mengikuti satu rancangan yang sama. Hal ini mengindikasikan bahwa pembangunnya adalah orang yang sama, atau pembangunnya pernah tinggal di kedua tempat tersebut dan mengetahui detailnya."
Lebih jauh, ia juga menyimpulkan bahwa arah Masjid Al-Aqsha pada masa awalnya menghadap langsung ke Ka’bah. Ini membuktikan bahwa Al-Aqsha dibangun setelah Masjidil Haram sebagaimana disebutkan dalam hadits, karena arahnya memang menghadap kepadanya.
Temuan ini menunjukkan bahwa pembangunan Masjid Al-Aqsha oleh Nabi Adam dilakukan berdasarkan rancangan yang sangat presisi, melebihi kemampuan manusia pada masa itu, dan pasti merupakan arahan langsung dari Allah. Ini menegaskan keterkaitan kuat, baik dari segi sejarah, bangunan, maupun agama, antara kedua masjid suci tersebut.
