Sekitar pukul setengah lima subuh, gerbang kompleks Al-Haram al-Sharif mulai membuka. Azan menggema di pelataran yang selama 40 hari hanya diisi angin dan beberapa petugas keamanan.
Ratusan warga Palestina masuk, ada yang sujud di tanah basah, ada yang menangis tanpa suara – seperti orang yang baru sadar bahwa sesuatu yang dianggap biasa ternyata sangat berat saat hilang.
Pembukaan itu terjadi pada 9 April 2026, setelah penutupan total terpanjang sejak pendudukan Yerusalem Timur tahun 1967. Selama 40 hari, Idul Fitri berlalu tanpa salat di Al-Aqsa. Hanya staf Wakaf dan pejabat tertentu yang diizinkan menginjakkan kaki di halaman seluas 14 hektar itu. Alasan resmi: keadaan darurat perang menyusul serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Lalu siapa yang benar-benar masuk saat sepi?
Selama kompleks kosong, laporan dari Otoritas Palestina mencatat setidaknya tujuh kali percobaan kelompok pemukim sayap kanan untuk menyelundupkan hewan kurban ke pelataran. Mereka menyebut kawasan itu Temple Mount dan ingin mengadakan ritual Paskah Yahudi di sana. Dua kali mereka nyaris berhasil mencapai batas Kota Tua.
Tiga hari sebelum pembukaan, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvier masuk melalui Gerbang Mughrabi, berkeliling halaman, lalu keluar lagi. Itu adalah kunjungannya yang ke-15 sejak menjabat. Foto dirinya berdiri di tengah pelataran kosong menyebar di grup-grup WhatsApp. Sebagian membalas dengan emoji marah, sebagian hanya diam. Sementara di kantor polisi Yerusalem, jadwal patroli untuk pekan itu sudah dicetak – dan jam kunjungan pemukim resmi diperpanjang setengah jam lebih awal dari biasanya.

Satu pintu dibuka, pintu lain justru semakin lebar
Pada pagi pembukaan, sekitar 3.000 orang memenuhi halaman Masjid Qibli. Suara takbir menggema, diiringi tangis haru yang terekam di puluhan ponsel. Tapi sebelum matahari meninggi, gelombang pertama pemukim mulai masuk. Pihak Wakaf mencatat total 448 pemukim yang masuk pada 9 April, terbagi dalam dua sesi – pagi dan siang. Waktu kunjungan mereka diperpanjang menjadi enam setengah jam sehari, dimulai pukul 06.30. Sebelum tahun 2003, tidak ada satu pun pemukim yang berani masuk ke kompleks ini tanpa izin khusus.
Seorang perempuan tua dari Silwan duduk di dekat Gerbang Chain, menatap pemukim yang lewat dengan rompi pengawal bersenjata. Matanya sayu, tangannya memegang tasbih. Seorang jurnalis lokal mendekat, tapi perempuan itu hanya menggeleng ketika ditanya perasaannya. “Kata apa yang cukup?” katanya pelan, lalu bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Rekaman suara itu tidak pernah diedit, tapi juga tidak pernah diputar ulang.
Fajar berikutnya akan seperti apa?
Departemen Wakaf Islam hanya mengumumkan bahwa akses “diizinkan untuk semua”, tanpa rincian lebih lanjut tentang jadwal tetap. Pemerintah Israel memperpanjang status darurat hingga pertengahan April, tapi tak menjelaskan apakah kompleks akan ditutup lagi setelah itu. Di grup Telegram bernama Al-Quds News, sebuah pesan berbunyi: “Kita masuk lagi hari ini. Tapi untuk berapa lama?” Tidak ada yang menjawab.
Sementara itu, di luar Gerbang Damascus, seorang pedagang kopi membuka lapaknya seperti biasa. Dia bilang, yang paling dia ingat selama 40 hari penutupan bukanlah politik, melainkan sepi. “Tidak ada suara anak-anak berlarian di pelataran. Tidak ada yang membeli kopi dari saya. Sunyi,” katanya sambil menuang air panas ke cangkir kertas. Di belakangnya, sekelompok pemuda mulai berjalan menuju pintu masuk. Hari baru dimulai. Tapi apakah ini awal dari sesuatu, atau hanya jeda antar-penutupan?•••
