Antre 6 jam demi 4 wadah makanan untuk 10 anggota keluarga—itulah kenyataan pahit yang harus dijalani Niyaha al-Masri (35 tahun) di Khan Younis setiap hari.
Untuk sekadar mendapatkan porsi makanan harian, seorang ibu di Gaza harus rela berdiri berjam-jam di bawah ketidakpastian.
Setiap pagi, Niyaha meninggalkan tenda pengungsiannya demi menuju dapur umum demi membawa pulang nasi, lentil serta sedikit ayam untuk menyambung hidup keluarganya. Saat ini lebih dari 1,4 juta warga Gaza terancam kelaparan hebat. Dan tanpa bantuan dapur umum ini, Niyaha mengaku mereka tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan.
Kisah Niyaha hanyalah satu dari jutaan penderitaan yang melanda Palestina. Selama tiga tahun sejak 7 Oktober 2023, agresi tak henti meratakan pemukiman dan memicu krisis ekstrem, kelaparan meluas, air bersih makin langka dan fasilitas medis lumpuh total.
Di tengah ketidakpastian ini, dapur umum menjadi penopang napas terakhir bagi warga Gaza untuk bertahan hidup. Keberlangsungannya sangat bergantung pada kepedulian kita semua.
