Setelah ditutup total akibat eskalasi perang Israel/AS-Iran, perlintasan Rafah akhirnya dibuka kembali (19/3/2026). Namun, harapan pasien Gaza yang menunggu evakuasi medis pupus oleh pembatasan lebih ketat dari sebelumnya.
Akibatnya, angka kematian terus bertambah setiap hari.
Eskalasi Baru di Rafah: Hanya 24 Pasien yang Dievakuasi
Perlintasan Rafah—satu-satunya jalur keluar Gaza yang tak melalui Israel—kembali ditutup Israel pada 28 Februari 2026 di tengah memanasnya konflik Israel-AS melawan Iran. Setelah tiga pekan vakum, jalur itu dibuka lagi pada 19 Maret. Namun, alih-alih mengalir lancar, evakuasi medis justru berjalan tersendat.
Sejak pembukaan kembali, hanya tidak lebih dari 24 pasien beserta pendampingnya yang diizinkan keluar. Jumlah ini sangat timpang dibanding kebutuhan minimal yang dipatok Kementerian Kesehatan Palestina: 200 hingga 400 pasien per hari agar beban kasus kritis dapat teratasi dalam enam bulan.
Akibat kelangkaan izin evakuasi ini, situasi di dalam Gaza kian mencekik. Sejak Mei 2024, lebih dari 1.400 pasien dari total 20.000 yang menunggu telah meninggal. Sebagian besar adalah anak-anak dan penderita kanker yang kondisi kesehatannya memburuk sebelum mendapat perawatan di luar Gaza.
Pembatasan yang kian ekstrem ini terjadi meski pembukaan Rafah semula menjadi salah satu poin utama dalam kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi AS pada Oktober lalu. Organisasi kemanusiaan PBB pun kembali mendesak Israel untuk menghentikan apa yang mereka sebut sebagai "hukuman kolektif" terhadap warga sipil yang sakit dan terluka.•••
