Penjahat perang itu berdiri di podium Sidang Umum PBB, mengeklaim tidak ada genosida di Gaza. Satu per satu delegasi bangkit dan berjalan keluar. Hampir 70 negara memilih meninggalkan ruangan daripada mendengarkan. Salah satunya: Indonesia.
Pada 24 September, saat Perdana Menteri Israel berpidato di Sidang Umum PBB, hampir 70+ delegasi negara melakukan walkout massal. Negara-negara yang keluar termasuk Turki, Palestina, Mesir, Arab Saudi, Iran, Qatar, Malaysia, Indonesia, Spanyol, Brasil, dan Nigeria. Netanyahu membantah adanya genosida di Gaza.
Aksi walkout itu bukan tanpa alasan. Presiden Palestina Mahmoud Abbas—yang seharusnya berbicara di forum yang sama—tidak diizinkan hadir secara fisik karena Amerika Serikat menolak memberikan visa. Ia hanya bisa berpidato melalui video. Dalam pidatonya, Abbas menyatakan jumlah negara yang mengakui Palestina telah mencapai 160, dan bersumpah "kami tidak akan pergi dari tanah kami, dan tidak akan menerima pengungsian".
Majelis Umum PBB kemudian mengesahkan resolusi dengan 152 suara yang mengizinkan Abbas berpartisipasi melalui video, langsung menembus penghalang visa AS. Utusan PBB Palestina Mansour menyatakan ini membuktikan Palestina tidak dapat "dihapus" atau "diabaikan".
Namun di luar ruang sidang, di Gaza, tidak ada yang berubah. Angka kematian terus bertambah setiap hari. Pengakuan diplomatik terus mengalir, tetapi tidak ada satu inci pun tanah yang dibebaskan. Ketika dunia hanya bisa memilih antara walkout atau video call, apa artinya suara 152 negara bagi mereka yang masih terkubur di bawah reruntuhan?•
